Minggu, 06 September 2009

Kenangan

Ku kuak luka lamaku
Sekedar untuk menjengukmu, kekasih.
Ku korek borok-borok yang mengering
Sekedar untuk menyapamu kembali.
Ku petik melodi sembilu
Dan berdansa dengan luka,
Ku mainkan nada-nada di accord biru
Mengajak hujan mengharu birukan semesta.
Ku untai kembali butiran-butiran air mataku yang bercampur darah
Hanya untuk menyebut namamu,
Ku rangkai serpihan-serpihan hatiku
Demi menghidupkan sedikit memori.
Kau, yang membuatku percaya akan cinta,
Kau, yang menghidupkan api dalam hati,
Kau, yang menghembuskan nafas kehidupan,
Kau, yang telah meninggalkan jejak
Dan menulis nama dengan darah di sudut hati hamba.

Sudah Nikmati Saja

Bangsa ini adalah bangsa yang tak pernah mau belajar
Bangsa yang sering dirundung duka tanpa mampu mencegahnya
Banjir, tanah longsor, dan kecelakaan transportasi bukan lagi hal baru
Hal-hal yang setiap tahun selalu terjadi dan berulang kembali
Lebih buruk dari keledai bangsa ini
Yang selalu terperosok dalam Lumpur yang sama lagi
Berhentilah saling menyalahkan
Karena memang tak ada yang patut disalahkan
Kecuali diri kita sendiri!
Bukan pemerintah, bukan pemda, bukan rakyat
Tak lain tak bukan hanya diri kita sendiri
Diri kita sendiri yang terbentuk dan membentuk sebuah sistem keparat
Yang menempatkan negeri ini menjadi seonggok karat
Kalau hutan masih tetap gundul…
Kalau pembalakan masih lancar…
Kalau korupsi disambut hangat…
Kalau kita masih buang sampah sembarangan…
Jangan teriak-teriak paling lantang!
Sudah nikmati saja itu bencana
Sebagai konsekuensi logis ulah kita
Sebut saja Alhamdulillah
Karena Tuhan belum mencabut nyawa di dada.

(5-2-07;23:41)

Mawar

Kami adalah sekumpulan bunga mawar
Berserak di alam hutan hujan.
Terik matahari jadi pelukan
Sinar rembulan selimut dalam kelam.
Kami tantang angin yang datang
Bahwa kami tak mudah dilumpuhkan.
Kami lawan busuknya keadaan
Bahwa kami bukan objek penaklukan.
Tapi, maaf beribu maaf…
Wujud kami tak seindah harapan
Tersaput debu, berbalut belukar.
Awas! Duri kami lebih tajam
Buah dari kerasnya kehidupan.
Wangi kami beda
Lebih harum, lebih murni, lebih elegan.
Kami jelas liar
Karena kami benar-benar hidup.
Jangan petik kami!
Tapi petiklah hati kami
Untuk hidup yang lebih berarti.

Orang Gila

Orang gila di tepi jalan
Berselimut debu jalanan
Meregang nyawa, menyambung tawa
Entah apa arti hidupnya
Oo…puing-puing kisah masa lalu
Akan semua masa silammu
Seberapa jauh cita-citamu…hancur tertikam waktu
Kusam memang kusam, sejarah berlalu kelam
Beban penderitaan tak dapat kutanggung sendirian
Menggigil diterpa hujan, meronta ditikam panas
Kulit mulai hitam melegam
Pesta pora lalat yang kelam
Dalam tidurmu kau bisikkan
Oh Tuhan…apa salah hamba?
Inikah pilihan hidup hamba?
Diiringi tangisan senja
Biarlah biar semua penderitaan
Kulewati dengan senyuman
Walaupun senyumku pun kelihatan Edan
Teruslah tertawa, teruslah mencerca
Merdekalah dalam duniamu.

Sabtu, 05 September 2009

Just in case…

When you are no longer my biggest fans
When you are no longer taking care of me when I was sick
When you re no longer missing me
When you are no longer wanna be my side
When all of your love had vanished, my dear
When you began to hate me, sweet

You must know that
I’ll always lit the fire of my heart
I need you so much
I love you so much
Thanks for giving so much love and joy of my life

Cinta Itu Cerita di di Senja Usia

Ah, ah, ah
Kau ajak aku cerita tentang cinta, Sayangku?

Ah, ah, ah
Apa itu cinta, Sayangku?
Apakah kau tau?

Cinta itu cerita di senja usia
Tentang kuda-kuda yang berlari
Mengejar Matahari
Di rerumputan hijau.

Cinta itu seperti biskuit yang
Kau makan di atas segelas teh
Panas yang mengepul-epul
Laiknya gumpalan awan yang terdesak angin.

Ah, ah, ah
Indah bukan, Sayangku?

Ah, ah, ah
Cinta itu indah, Sayangku
Saat perut telah kenyang dan
Kau tak lagi bingung apa besok bisa makan.

Jika belum, Sayangku
Lupakan saja, ceritakan saja yang lain.

Karna cinta yang kau gadang-gadang
Yang kau agung-agungkan, Sayangku
Tak lebih dari rombongan
Yang lari tunggang langgang
Saat kentut menerjang.

Batam, 14/5/’09

Cinta adalah Dongeng Pengantar Tidur

Seorang bocah dengan
kulit terbakar matahari
Nanar menatap rendang
Di rumah makan padang
Menunggu kantuk,
Menahan lapar,
Ah, hari hujan

Cinta adalah dongeng pengantar tidur.

Di ruang temaram
Di antara bujukan
Parfum dan keringat,
Keluhan ranjang yang menua
Dan mimpi kosong tentang hari depan,
Si Gadis masih berhitung
Untuk Ayahnya melunasi hutang
Ibu yang terbaring sakit di ranjang.

Cinta adalah dongeng pengantar tidur.


Keringat bagai derasnya hujan
Selesai kau seka
Lewat handukmu yang kuyu
Perlahan melangkah ke kedai kopi
Singkong goreng mengajakmu bercumbu

Matahari, seperti hari kemarin
Masih sombong
Matamu berjalan, mencari keteduhan
Di rindangnya pohon
Sama uzur sama kau

Cinta adalah dongeng pengantar tidur.

Batam, sambil menunggu gajian Juli ‘09