Minggu, 06 September 2009

Gerimis

Gerimis…

Saat butirnya bersentuhan dengan Dunia
Menciptakan nada-nada orkestra Nirwana.
Ku petik sang nada, ku tiupkan bersama sukma
Menuju peraduan bidadari cinta.

Gerimis…

Sejumput kerinduan merebak
Mendejavukan suasana
Saat hidup berhenti berhembus,
Waktu terbelenggu hampa,

Kosong, netral…

Biarkan cinta bercengkrama
Gerimis…
Syahdu…

Gerimis…
Satu kerjap lagi bidadariku,
Aku datang menjemputmu.

(21-01-’07; malam)

Seonggok Keluh Pinggiran

Kami kaum kusam
Menggeliat dalam buramnya dunia.
Kami kaum yang sudah tak sanggup lagi berkeluh kesah
Tuntas semua airmata juga darah.

Kami kaum yang terpinggirkan
Menahan lapar dan derita dalam subalan tekad hampa.
Tekad yang menjadi asa-sia.

Berborok dibawah lapisan kulit sanubari.
Kami kaum yang terpasung
Di dalam belenggu hidup yang sinis.
Mencekik, menghujam, kami miris
Kematian pun tak lagi amis.

Ketika Malam Mulai Disemayamkan

Ketika malam mulai disemayamkan
Badan tersandar mata melelap,
Dewa-dewa berduyun ke Nirwana
Menuju peristirahatan kekal jiwa.

Ketika malam mulai disemayamkan
Saat tu pula kedengkian mulai ditebarkan,
Binatang malam mancari mangsa
Celaka dan jahanam berpesta pora.

Ketika malam mulai disemayamkan
Kemerdekaan terampas sudah,
Kerentaan dan kerentanan berkumpul
Mengais-ais sisa belatung senja.

Ketika malam mulai disemayamkan
Dewa-dewa ngiler dan bermimpi,
Celaka dan jahanam terus terkutuk,
Kemerdekaan berlalu musnah.

(13-01-’07; tengah malam)

Bab Rambut Gondrong

Rambut oh rambut…
Kata orang-orang bikin ruwet tambah semrawut
Katanya kalau aku mau dapat pacar, harus potong dulu itu rambut
Lha… mau pacaran sama aku atau sama rambut.

Duh rambut gondrongku…

Kata teman sumber musibah, bikin blunder kalau main sepak bola
Dipotong, diruwat itu rambut
Biar rasa sial tambah surut
Ealah rambut…
Kasar dan kusut
Hampir mirip sapu ijuk butut
Tapi pernah dihargai lebih mahal dari 20 bungkus es serut.

Mbut, mbut…
Jangan salah, jangan kira,

Ini rambut bukan sembarang rambut
Ini adalah idealisme yang tak pernah surut
Adalah pemberontakan terhadap kemapanan rambut dan zaman
Adalah simbol jiwa juga rasa
Adalah… gatel!

Rambut gondrong kekasihku!
Akhirnya harus kurelakan dirimu demi masa depan yang lebih baik
Bukan kalah berjuang, bukan matinya idealisme
Tapi titah Ibunda, yang kata mantan adalah titah sang pencipta
Akhirnya…
Mungkin aku rela.

(Djogdja; 3-2-’07; tengah malam)

Saat Hujan Turun

Aku ingin engkau
Duduk disini
Memandang lampu-lampu di laut
Bersama hujan

Aku ingin engkau
Membuatkan segelas
Susu panas, sewaktu
Hujan turun
Sambil bercerita tentang kamu.

Aku ingin memetik gitar untukmu
Mendengar senandungmu
Bak rinai hujan
Yang bercerita tentang cinta
Dan kehidupan.

Aku ingin memandang
Cahaya di wajahmu
Dan berbicara dengan
Matamu
Yang luruh bersama hujan

Kenangan

Ku kuak luka lamaku
Sekedar untuk menjengukmu, kekasih.
Ku korek borok-borok yang mengering
Sekedar untuk menyapamu kembali.
Ku petik melodi sembilu
Dan berdansa dengan luka,
Ku mainkan nada-nada di accord biru
Mengajak hujan mengharu birukan semesta.
Ku untai kembali butiran-butiran air mataku yang bercampur darah
Hanya untuk menyebut namamu,
Ku rangkai serpihan-serpihan hatiku
Demi menghidupkan sedikit memori.
Kau, yang membuatku percaya akan cinta,
Kau, yang menghidupkan api dalam hati,
Kau, yang menghembuskan nafas kehidupan,
Kau, yang telah meninggalkan jejak
Dan menulis nama dengan darah di sudut hati hamba.

Sudah Nikmati Saja

Bangsa ini adalah bangsa yang tak pernah mau belajar
Bangsa yang sering dirundung duka tanpa mampu mencegahnya
Banjir, tanah longsor, dan kecelakaan transportasi bukan lagi hal baru
Hal-hal yang setiap tahun selalu terjadi dan berulang kembali
Lebih buruk dari keledai bangsa ini
Yang selalu terperosok dalam Lumpur yang sama lagi
Berhentilah saling menyalahkan
Karena memang tak ada yang patut disalahkan
Kecuali diri kita sendiri!
Bukan pemerintah, bukan pemda, bukan rakyat
Tak lain tak bukan hanya diri kita sendiri
Diri kita sendiri yang terbentuk dan membentuk sebuah sistem keparat
Yang menempatkan negeri ini menjadi seonggok karat
Kalau hutan masih tetap gundul…
Kalau pembalakan masih lancar…
Kalau korupsi disambut hangat…
Kalau kita masih buang sampah sembarangan…
Jangan teriak-teriak paling lantang!
Sudah nikmati saja itu bencana
Sebagai konsekuensi logis ulah kita
Sebut saja Alhamdulillah
Karena Tuhan belum mencabut nyawa di dada.

(5-2-07;23:41)