Dik, aku cinta kamu tanpa rencana
Bukan mengikuti program pemerintah
Soal membangun keluarga alias Keluarga Berencana.
Dik, aku cinta kamu tiba-tiba
Seperti naiknya gaji anggota DPRD di negara kita
Padahal Mbah Ijah masih harus bekerja.
Cintaku padamu bukan musibah
Bukan seperti gempa di Jogja
Atau lumpur di timur jawa.
Cintaku padamu jelas misteri
Seperti KM Senopati
Atau Adam Air yang lenyap tertelan bumi.
Cintaku padamu, Dik, tak serakah
Bukan seperti para koruptor yang tak jua jera
Di tengah nasi aking dan tumpukan hutang Negara
Cintaku padamu jelas miskin, Dik
Seperti kualitas pendidikan di negara kita
Juga mayoritas penduduk Indonesia.
Tapi, aku tetap cinta padamu Dik.
(21-01-07)
Minggu, 06 September 2009
… … …
Ruang hampa yang kusapukan
Meninggalkan jejak-jejak hitam
Melukiskan warna-warni serpihan perjuangan
Di atas kanvas kehidupan.
(21-07-’07)
Meninggalkan jejak-jejak hitam
Melukiskan warna-warni serpihan perjuangan
Di atas kanvas kehidupan.
(21-07-’07)
Gerimis
Gerimis…
Saat butirnya bersentuhan dengan Dunia
Menciptakan nada-nada orkestra Nirwana.
Ku petik sang nada, ku tiupkan bersama sukma
Menuju peraduan bidadari cinta.
Gerimis…
Sejumput kerinduan merebak
Mendejavukan suasana
Saat hidup berhenti berhembus,
Waktu terbelenggu hampa,
Kosong, netral…
Biarkan cinta bercengkrama
Gerimis…
Syahdu…
Gerimis…
Satu kerjap lagi bidadariku,
Aku datang menjemputmu.
(21-01-’07; malam)
Saat butirnya bersentuhan dengan Dunia
Menciptakan nada-nada orkestra Nirwana.
Ku petik sang nada, ku tiupkan bersama sukma
Menuju peraduan bidadari cinta.
Gerimis…
Sejumput kerinduan merebak
Mendejavukan suasana
Saat hidup berhenti berhembus,
Waktu terbelenggu hampa,
Kosong, netral…
Biarkan cinta bercengkrama
Gerimis…
Syahdu…
Gerimis…
Satu kerjap lagi bidadariku,
Aku datang menjemputmu.
(21-01-’07; malam)
Seonggok Keluh Pinggiran
Kami kaum kusam
Menggeliat dalam buramnya dunia.
Kami kaum yang sudah tak sanggup lagi berkeluh kesah
Tuntas semua airmata juga darah.
Kami kaum yang terpinggirkan
Menahan lapar dan derita dalam subalan tekad hampa.
Tekad yang menjadi asa-sia.
Berborok dibawah lapisan kulit sanubari.
Kami kaum yang terpasung
Di dalam belenggu hidup yang sinis.
Mencekik, menghujam, kami miris
Kematian pun tak lagi amis.
Menggeliat dalam buramnya dunia.
Kami kaum yang sudah tak sanggup lagi berkeluh kesah
Tuntas semua airmata juga darah.
Kami kaum yang terpinggirkan
Menahan lapar dan derita dalam subalan tekad hampa.
Tekad yang menjadi asa-sia.
Berborok dibawah lapisan kulit sanubari.
Kami kaum yang terpasung
Di dalam belenggu hidup yang sinis.
Mencekik, menghujam, kami miris
Kematian pun tak lagi amis.
Ketika Malam Mulai Disemayamkan
Ketika malam mulai disemayamkan
Badan tersandar mata melelap,
Dewa-dewa berduyun ke Nirwana
Menuju peristirahatan kekal jiwa.
Ketika malam mulai disemayamkan
Saat tu pula kedengkian mulai ditebarkan,
Binatang malam mancari mangsa
Celaka dan jahanam berpesta pora.
Ketika malam mulai disemayamkan
Kemerdekaan terampas sudah,
Kerentaan dan kerentanan berkumpul
Mengais-ais sisa belatung senja.
Ketika malam mulai disemayamkan
Dewa-dewa ngiler dan bermimpi,
Celaka dan jahanam terus terkutuk,
Kemerdekaan berlalu musnah.
(13-01-’07; tengah malam)
Badan tersandar mata melelap,
Dewa-dewa berduyun ke Nirwana
Menuju peristirahatan kekal jiwa.
Ketika malam mulai disemayamkan
Saat tu pula kedengkian mulai ditebarkan,
Binatang malam mancari mangsa
Celaka dan jahanam berpesta pora.
Ketika malam mulai disemayamkan
Kemerdekaan terampas sudah,
Kerentaan dan kerentanan berkumpul
Mengais-ais sisa belatung senja.
Ketika malam mulai disemayamkan
Dewa-dewa ngiler dan bermimpi,
Celaka dan jahanam terus terkutuk,
Kemerdekaan berlalu musnah.
(13-01-’07; tengah malam)
Bab Rambut Gondrong
Rambut oh rambut…
Kata orang-orang bikin ruwet tambah semrawut
Katanya kalau aku mau dapat pacar, harus potong dulu itu rambut
Lha… mau pacaran sama aku atau sama rambut.
Duh rambut gondrongku…
Kata teman sumber musibah, bikin blunder kalau main sepak bola
Dipotong, diruwat itu rambut
Biar rasa sial tambah surut
Ealah rambut…
Kasar dan kusut
Hampir mirip sapu ijuk butut
Tapi pernah dihargai lebih mahal dari 20 bungkus es serut.
Mbut, mbut…
Jangan salah, jangan kira,
Ini rambut bukan sembarang rambut
Ini adalah idealisme yang tak pernah surut
Adalah pemberontakan terhadap kemapanan rambut dan zaman
Adalah simbol jiwa juga rasa
Adalah… gatel!
Rambut gondrong kekasihku!
Akhirnya harus kurelakan dirimu demi masa depan yang lebih baik
Bukan kalah berjuang, bukan matinya idealisme
Tapi titah Ibunda, yang kata mantan adalah titah sang pencipta
Akhirnya…
Mungkin aku rela.
(Djogdja; 3-2-’07; tengah malam)
Kata orang-orang bikin ruwet tambah semrawut
Katanya kalau aku mau dapat pacar, harus potong dulu itu rambut
Lha… mau pacaran sama aku atau sama rambut.
Duh rambut gondrongku…
Kata teman sumber musibah, bikin blunder kalau main sepak bola
Dipotong, diruwat itu rambut
Biar rasa sial tambah surut
Ealah rambut…
Kasar dan kusut
Hampir mirip sapu ijuk butut
Tapi pernah dihargai lebih mahal dari 20 bungkus es serut.
Mbut, mbut…
Jangan salah, jangan kira,
Ini rambut bukan sembarang rambut
Ini adalah idealisme yang tak pernah surut
Adalah pemberontakan terhadap kemapanan rambut dan zaman
Adalah simbol jiwa juga rasa
Adalah… gatel!
Rambut gondrong kekasihku!
Akhirnya harus kurelakan dirimu demi masa depan yang lebih baik
Bukan kalah berjuang, bukan matinya idealisme
Tapi titah Ibunda, yang kata mantan adalah titah sang pencipta
Akhirnya…
Mungkin aku rela.
(Djogdja; 3-2-’07; tengah malam)
Saat Hujan Turun
Aku ingin engkau
Duduk disini
Memandang lampu-lampu di laut
Bersama hujan
Aku ingin engkau
Membuatkan segelas
Susu panas, sewaktu
Hujan turun
Sambil bercerita tentang kamu.
Aku ingin memetik gitar untukmu
Mendengar senandungmu
Bak rinai hujan
Yang bercerita tentang cinta
Dan kehidupan.
Aku ingin memandang
Cahaya di wajahmu
Dan berbicara dengan
Matamu
Yang luruh bersama hujan
Duduk disini
Memandang lampu-lampu di laut
Bersama hujan
Aku ingin engkau
Membuatkan segelas
Susu panas, sewaktu
Hujan turun
Sambil bercerita tentang kamu.
Aku ingin memetik gitar untukmu
Mendengar senandungmu
Bak rinai hujan
Yang bercerita tentang cinta
Dan kehidupan.
Aku ingin memandang
Cahaya di wajahmu
Dan berbicara dengan
Matamu
Yang luruh bersama hujan
Langganan:
Postingan (Atom)
