Minggu, 06 September 2009

Ara

Payudaramu
Masih menatapku dengan murung
Entah sudah berapa lama kupegang
Mungkin ratusan ribu kali.

Temaram yang dibentang
Oleh lampu kecil di sudut kamar;
Ranjang yang bermain melodi sendu
Poster kusam mimpi hari depan
Dan radio tua yang tak henti-henti
Menabuh genderang yang telah hilang
Semangat.

Ah, siluetmu
Yang bergoyang-goyang di tiup
Angin asmara.

Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun,
Bilang pada bulan
Jangan berhenti bersinar
Dan taburilah wajahnya
Banyak-banyak cahaya bintang.

Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun, sampai pintu bilik di ketuk.

(Batam, 17 Mei 09)

Lagu Perang

Saatnya melepas selimut
Ganti dengan parang!
Panjangkan rambut
Suburkan janggut
Mari maju perang!

Ambil bajumu, jadikan layar
Busungkan dadamu, jalinkan ototmu
Daki gunung! Arungi samudra!
Lagi darah masih merah.

Petir dan gempa pasti datang
Datang dan mengancam
(ya! Mereka teramat kejam)
Menangislah sampai keluar darah!
Menjerit sampai putus pita suara!
Asal jangan padam pelita jiwa
Sulut dengan bara
Mimpi dan cita-cita

(Batam, 24/5/09)

... ... ...

Don’t turn the lights off
When I’m gone
I ain’t go back off
To the life of mourn

Go get the gun!
Yell the salvos!
The life is just began
Wash your dream from sorrow

I’ve been waiting for this
Backpacking with all my dreams
I’ve choosen my path
No sign of givin’ up

Don’t worry ‘bout the pain
Will make hard and still
For even I have the rain
To wash all the tears

(Batam, 11/7/09)

BADAI

Untuk UJ

Hidup mengajari mu dengan keras dan sengit
Dengan air mata, dengan darah.
Dunia membagi mu sisi jalangnya
Dengan Lumpur, dengan sangkur.

Visi mu gelap dan suram
Kau minyaki paru-paru dengan pedih
Kau bakar hatimu dengan dendam.

Langit atapmu, bumi kasurmu
Arak dan Ciu kemarilah, karna
Kalian karib.

Berkelahi dan belati adalah jalan,
Jalan yang menjadikanmu ada.

Lampu-lampu di kotamu redup,
Menjadikannya suram.
Angin berdesau-desau, Jangkrik!
Pun tak berani mengerik.

Hujan mulai turun,
Setajam jarum, sedingin es
Membasuh mawar yang tumbuh
Di halamanmu.

Turun di hatimu.

Hujan yang turun di hatimu, hitam…

(Batam, 5/7/09)

... ... ...

I love you like Sun
Wonderful to see
Impossible to reach
So far away…
So far away…

I love you like stars
Beautiful but cold
Out of my reach
So far away…
So far away…

I wanna be the Mercurius
The one who closest to you;
The one whom you love a lot;
For even, I must burnt
And dead.

I love you as best as I do
With the broken heart
With the twisted soul

The space is too much
Empties the life inside
Destroys like storm dust
Summons black hole
Walks into an eternal darkness

27/4/09, Batam

Dik

Dik, aku cinta kamu tanpa rencana
Bukan mengikuti program pemerintah
Soal membangun keluarga alias Keluarga Berencana.
Dik, aku cinta kamu tiba-tiba
Seperti naiknya gaji anggota DPRD di negara kita
Padahal Mbah Ijah masih harus bekerja.
Cintaku padamu bukan musibah
Bukan seperti gempa di Jogja
Atau lumpur di timur jawa.
Cintaku padamu jelas misteri
Seperti KM Senopati
Atau Adam Air yang lenyap tertelan bumi.
Cintaku padamu, Dik, tak serakah
Bukan seperti para koruptor yang tak jua jera
Di tengah nasi aking dan tumpukan hutang Negara
Cintaku padamu jelas miskin, Dik
Seperti kualitas pendidikan di negara kita
Juga mayoritas penduduk Indonesia.
Tapi, aku tetap cinta padamu Dik.
(21-01-07)

… … …

Ruang hampa yang kusapukan
Meninggalkan jejak-jejak hitam
Melukiskan warna-warni serpihan perjuangan
Di atas kanvas kehidupan.

(21-07-’07)